Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘kesenian’

Perpaduan budaya asli Banyumas, Jawa Tengah, dengan budaya negeri China telah menghasilkan sebuah seni baru bernama “Calengsay”. “Tarian Calengsay merupakan perpaduan antara calung dan lengger yang asli Banyumas dengan barongsay yang berasal dari China,” kata pengasuh tari “Calengsay”, Lie Hok Beng alias Mantep, di Purwokerto, Selasa. Menurut dia, tari Calengsay diciptakan sekitar pertengahan 2008 lalu atas inspirasi Bupati Banyumas Mardjoko yang menginginkan adanya sebuah kolaborasi seni budaya Banyumasan dan China. Ide tersebut ditindaklanjuti Mantep dengan mencoba menggabungkan seni calung dan lengger Banyumasan dengan barongsay. Ia mengatakan, para penari lengger dalam Calengsay bukanlah penari lengger yang biasa ditampilkan dalam setiap pertunjukan lengger Banyumasan.

“Umumnya penari lengger merupakan wanita dewasa, tetapi dalam Calengsay justru perempuan muda yang berusia 14-15 tahun dan berasal dari etnis China yang kita ambil dari Bruderan maupun Susteran,” katanya. Menurut dia, bentuk kolaborasi dalam tarian Calengsay baru ditemukan setelah berlatih delapan kali. Dalam hal ini, kata dia, tarian Calengsay diawali aksi enam penari lengger yang menyanyikan sebuah lagu berbahasa China dengan iringan musik calung Banyumasan yang dilanjutkan dengan lagu-lagu Banyumasan.

Ia mengatakan, para penari tersebut menggambarkan gadis-gadis yang sedang bermain, tetapi tiba-tiba datang seekor barongsay menghampiri mereka. “Gadis-gadis itu ketakutan hingga ada seorang pawang yang mencoba mendekati barongsay dan ternyata hewan yang biasa digunakan untuk membersihkan tempat-tempat keramat ini tampak baik sehingga mereka pun bermain bersama,” katanya. Mengenai jumlah seluruh pemain Calengsay, dia mengatakan, sekitar 30 orang terdiri enam penari lengger, 10 pemain barongsay, dan sisanya pemain musik calung serta penabuh tambur.

Tarian Calengsay tampil perdana di depan umum pada pembukaan Konferensi Internasional Kebudayaan Jawa (KIKJ) di Pendopo Kabupaten Banyumas yang dihadiri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada 21 Oktober 2008 lalu. Sejak saat itu tari Calengsay mulai dikenal dan tampil di sejumlah kota seperti Jakarta dan Semarang.

Sumber : KOMPAS

Iklan

Read Full Post »