Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘calengsai’

Adalah Bapak Drs. H. Mardjoko, MBA, Bupati banyumas yang dilantik tanggal 11 April 2008 berupaya menyerap aspirasi masyarakat dengan berbagai cara. Diantaranya beliau menyelenggarakan acara Forum Rektor pada tanggal 26 Juni 2008. Pada saat itu beliau berkehendak untuk mementaskan seni tradisional khas banyumas. Bagaimana membesarkan lengger, dengan prinsip entertainmen yaitu menampilkan lengger dengan performance yang unik. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas, Bapak H. Slamet Sudiro, MM pada tanggal 1 Juli menyampaikan pada rapat pamong budaya se Kabupaten Banyumas di AULA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Oleh Pamong budaya itu di tanggapi dengan antusias dimana penarinya adalah anak anak dari keturunan tionghoa dan di kolaborasikan dengan seni barongsai yang kemudian di sebut “CALENGSAI”, akronim dari Calung. Lengger dan Barongsai. Hal ini merupakan upaya assimihuwa antara budaya Tionghoa dan Jawa.

Sri Rahayu sebagai praktisi tari yang mengkolaborasikan anatar calung, lngger dan barongsai menjadi bentuk tonton seni yang unik dan menarik juga sebagai pamong budaya Kecamatan Purwokerto Timur mengambil langkah cepat merealisasikan ide tersebut. Esok harinya ia menghubungi Kepala Sekolah SMA Bruderan dan Kepala Sekolah Susteran untuk mencari personel penari anak-anak keturunan Tionghoa dengan beberapa criteria tertentu. Setelah bercerita panjang lebar untuk meyakinkan pihak sekolah akhirnya menyetujuinya.

Latihan dasar dimulai setelah ia merancang koreografinya dan segera menghubungi partner kerjanya, yaitu:

  1. Yusmanto S.Sen, Kasi kesenian dan sastra untuk mengaransemen music calung yang dipadukan dengan music barongsai.
  2. Pak budi siswanto (Pak mmatep), pimpinan grup barongsai.
  3. Dwi Kusni H, Pamong Budaya untuk melatih vokalnya.
  4. Pihak pendukung yaitu Pihak klenteng Cing Lun Dhuan Pasar Wage, SMPN 8 Purwokerto dan SMAN 4 Purwokerto.
  5. Kustiyah, pengasuh sanggar Graha Satria untuk membantu melatih tari.
  6. Grup Calung Karyawan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Lagu yang dipilih antara lain ricik-ricik, Banyumas Satria, Baturraden dan sebagainya yang diciptakan oleh Dr. Rasito Pangrawit. Untuk mengumandangkan Banyumas Satria yang kaya dengan tempat wisata.

Pada latihan ke-4 di Mandala Wisata sempat di tinjau oleh bapak Bupati Banyumas, beliau menilai layak pentas, sehingga pada acara refleksi program 100 hari Bupati dab Wakil Bupati Banyumas, Calengsai melaksanakan pentas perdananya di Pendopo Si Panji Purwokerto.

Pada pentas itu sebenarnya belum maksimal karena penarinya relative baru, pada kolaborasi itu juga di dendangkan lagu mandarin berjudul Hao Ri Zi (baca: hau re ze) yang artinya hari yang baik yang dibawakan oleh penyanyi asal RRC yang dating ke Purwokerto tahun 2002 bernama Chen Yi, lagu mandarin tersebut ternyata selaras dengan titi laras slendro.

Fenomena baru itu menarik wartawan untuk diberitakan melalui media cetak dan elektronika. Dan upaya ini membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa berdasar Pancasila dalam membangun Kabupaten Banyumas lewat kesenian Calengsai.

untuk keterangan lebih lanjut tentang pemain dan seluk beluk lainnya akan segera diposting, thanks ^^

Read Full Post »

Perpaduan budaya asli Banyumas, Jawa Tengah, dengan budaya negeri China telah menghasilkan sebuah seni baru bernama “Calengsay”. “Tarian Calengsay merupakan perpaduan antara calung dan lengger yang asli Banyumas dengan barongsay yang berasal dari China,” kata pengasuh tari “Calengsay”, Lie Hok Beng alias Mantep, di Purwokerto, Selasa. Menurut dia, tari Calengsay diciptakan sekitar pertengahan 2008 lalu atas inspirasi Bupati Banyumas Mardjoko yang menginginkan adanya sebuah kolaborasi seni budaya Banyumasan dan China. Ide tersebut ditindaklanjuti Mantep dengan mencoba menggabungkan seni calung dan lengger Banyumasan dengan barongsay. Ia mengatakan, para penari lengger dalam Calengsay bukanlah penari lengger yang biasa ditampilkan dalam setiap pertunjukan lengger Banyumasan.

“Umumnya penari lengger merupakan wanita dewasa, tetapi dalam Calengsay justru perempuan muda yang berusia 14-15 tahun dan berasal dari etnis China yang kita ambil dari Bruderan maupun Susteran,” katanya. Menurut dia, bentuk kolaborasi dalam tarian Calengsay baru ditemukan setelah berlatih delapan kali. Dalam hal ini, kata dia, tarian Calengsay diawali aksi enam penari lengger yang menyanyikan sebuah lagu berbahasa China dengan iringan musik calung Banyumasan yang dilanjutkan dengan lagu-lagu Banyumasan.

Ia mengatakan, para penari tersebut menggambarkan gadis-gadis yang sedang bermain, tetapi tiba-tiba datang seekor barongsay menghampiri mereka. “Gadis-gadis itu ketakutan hingga ada seorang pawang yang mencoba mendekati barongsay dan ternyata hewan yang biasa digunakan untuk membersihkan tempat-tempat keramat ini tampak baik sehingga mereka pun bermain bersama,” katanya. Mengenai jumlah seluruh pemain Calengsay, dia mengatakan, sekitar 30 orang terdiri enam penari lengger, 10 pemain barongsay, dan sisanya pemain musik calung serta penabuh tambur.

Tarian Calengsay tampil perdana di depan umum pada pembukaan Konferensi Internasional Kebudayaan Jawa (KIKJ) di Pendopo Kabupaten Banyumas yang dihadiri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada 21 Oktober 2008 lalu. Sejak saat itu tari Calengsay mulai dikenal dan tampil di sejumlah kota seperti Jakarta dan Semarang.

Sumber : KOMPAS

Read Full Post »